Yang Bersalah Tak Bisa Mengelak Dari Pengadilan Bedolob

Bedolob merupakan salah satu upacara sakral dari Suku Dayak Agabag, yang merupakan sebuah kelompok etnis dari sub-suku Dayak. Masyarakat Dayak Agabag tinggal di kawasan utara Kalimantan Utara, antara lain di kecamatan Sembakung,Sebuku, Lumbis dan sebagian Kabupaten Bulungan dan Sabah.

Suku Dayak Agabag memiliki tradisi unik dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara mereka. Tradisi unik ini disebut sebagai Bedolob atau Dolob.

Bedolob/Dolob adalah tradisi pengadilan adat khas Suku Dayak Agabag di Kalimantan Timur. Tradisi peninggalan leluhur ini sampai sekarang masih dilestarikan dan masih dipraktekkan oleh mereka.

Proses Sidang Bedolob Suku Dayak Agabag
Proses Sidang Bedolob Suku Dayak Agabag
Pengadilan ini sungguh unik dan sakti, tak bisa diintervensi oleh uang dan kekuasaan.

Bedolob merupakan langkah atau solusi terakhir yang akan diambil untuk dapat menyelesaikan sengketa ataupun permasalahan yang terjadi di antara sesama warga dayak Agabag jika penyelesaian secara musyawarah adat dan kekeluargaan belum dapat menghasilkan solusi dan menemui kebuntuan bagi kedua belah pihak.

“Bedolob itu adalah hakim tertinggi bagi suku Dayak Agabag ketika ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan secara kekeluargaan ataupun adat,”

Beragam kasus yang biasa menemui kebuntuan bagi suku Dayak Agabag ini bisa diselesaikan dengan melakukan tradisi pengadilan unik Bedolob ini. Kasus yang biasanya diselesaikan dengan tradisi Bedolob ini adalah kasus pencurian, sengketa tanah, perselingkuhan, hingga pembunuhan.

Dikarenakan pengadilan Bedolob/Dolob ini merupakan satu-satunya jalan terakhir yang akan ditempuh dan juga memiliki resiko yang sangat tinggi serta efek sosial dan psikologis yang tidak kecil maka tidak bisa sembarangan atau gegabah dalam pelaksananaannya.

Sidang Bedolog Suku Dayak Agabag
Penancapan Tonggak Di Sungai Untuk Upacara Persidangan Bedolog

Selain itu, untuk menggelar ritual Bedolob ini biasanya membutuhkan biaya yang besar diantaranya untuk menyediakan tebusan bagi yang kalah dalam pelaksanaan ritual. Mereka yang kalah dalam persidangan Bedolob ini diharuskan untuk membayar tebusan kepada yang menang.

Biasanya tebusan tersebut berupa guci antik dengan harga yang sangat mahal ataupun hewan ternak dalam jumlah tertentu sebagaimana yang telah ditentukan sebelumnya.

Oleh karena itu, Ketua Adat sebelum mengambil keputusan untuk melaksanakan ritual Bedolob ini, biasanya berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menyelesaikan masalah secara kekeluargaan ataupun musyawarah adat.

Pergelaran upacara adat Bedolob ini merupakan hak prerogatif dari Ketua Adat setempat. Berhasil atau tidaknya prosesi pelaksanaan upacara Bedolob ini sangat tergantung dari si Ketua Adat.

Oleh karena itu maka Ketua Adat sangat berperan penting dalam pelaksanaan upacara adat Bedolob bagi suku Agabag ini.

Pelaksanaan upacara adat persidangan Bedolob ini harus dilakukan pada sebuah sungai. Sungai menjadi tempat wajib untuk melakukan upacara yang unik dan sakral ini.

Dalam melakukan upacara Bedolob / Dolob ini maka Ketua Adat harus menyiapkan beberapa persyaratan khusus yang akan digunakan.

Diantara persyaratan yang dibutuhkan itu adalah Kayu rambutan hutan atau biasa disebut Kalambuku yang nantinya akan digunakan sebagai tonggak atau penanda lokasi bagi para pelaku yang akan disidangkan.

Persyaratan lain yang dibutuhkan yaitu untuk memanggil roh para leluhur diantaranya adalah beras kuning, jantung pisang, kain kuning, kain merah dan pohon kalambuku.

Ritual Upacara Adat Bedolog Suku Dayak Agabag
Ketua Adat Suku Dayak Agabag bersiap melakukan ritual pemanggilan roh leluhur

Dalam upacara pemanggilan roh ini bertujuan untuk mendatangkan semua roh leluhur baik yang ada di darat maupun di laut agar dapat menyaksikan proses upacara Bedolob ini.

Inti dari pemanggilan roh leluhur ini pada dasarnya adalah meminta ijin kepada Tuhan dan juga alam agar dapat mengadili para pelaku seadil-adilnya.

Prosesi Upacara Adat Bedolob

Setelah Ketua Adat memutuskan untuk menyelesaikan masalah dengan cara upacara adat Bedolob, maka para pihak-pihak yang bertikai ini dibawa oleh Ketua Adat ke sungai tempat akan dilangsungkannya upacara Bedolob ini.

Ditempat ini selain didatangi oleh kedua belah pihak yang bersengketa dan Ketua Adat juga disaksikan oleh para warga setempat.

Ditengah sungai tersebut kemudian ditancapkan 2 buah kayu Kalambuku dengan kedalaman sepinggang orang dewasa, yang nantinya akan dijadikan tonggak atau pegangan oyang yang akan diadili.

Setelah itu Ketua Adat segera melakukan ritual pemanggilan para leluhur menggunakan persyaratan yang telah disiapkan sebelumnya. Salah satu diantaranya adalah dengan memukulkan jantung pisang yang telah disiapkan ke tanah berkali-kali selama sekitar 5 menit.

Kemudian setelah dirasa oleh Ketua Adat roh para leluhur telah hadir di lokasi upacara Bedolob ini, maka kedua belah pihak yang bersengketa ini dipersilahkan untuk masuk kedalam air menuju tonggak yang telah disiapkan di tengah sungai. Suasana upacara ini benar-benar sakral dan terasa sangat magis.

Suku Dayak Agabag
Antusias warga menyaksikan persidangan Bedolog Suku Dayak Agabag

Selanjutnya kedua belah pihak yang bertikai ini harus menyelam masuk ke dalam air sungai sambil berpegangan pada tonggak yang telah ditentukan bagi masing-masing pihak.

Dan inilah bagian inti dan paling penting dari prosesi upacara Bedolob ini.

Dalam tradisi Bedolob ini dipercaya bahwa bagi siapapun yang mengikuti tradisi ini namun mereka sama sekali tidak bersalah maka tidak akan terjadi apapun pada mereka selama menyelam di dalam air sungai.

Meskipun orang tersebut tidak bisa berenang sama sekali, tetap akan bisa bernafas secara normal di dalam sungai dalam waktu yang lama bahkan bisa sampai berhari-hari dan tetap selamat tanpa cedera.

Namun beda halnya bagi mereka yang bersalah ketika mengikuti prosesi upacara Bedolob ini, meskipun mereka sudah terbiasa menyelam sebelumnya dijamin tak akan mampu bertahan lama ketika mengikuti upacara Bedolob ini.

Suku Dayak Agabag
Warga suku Dayak Agabak berkumpul menyaksikan prosesi upacara adat persidangan Bedolog

Meskipun mereka nekad bertahan untuk tidak keluar dari dalam sungai, maka sudah dipastikan orang tersebut akan mendapat celaka atau cedera sehingga pada akhirnya terpaksa harus menyerah untuk mengakui perbuatannya. Karena jika tidak bisa-bisa maut akan menjemput.

Orang yang bersalah tersebut selama menyelam di dalam sungai akan mendapat gangguan dari para leluhur dan juga hewan-hewan sungai bisa berupa ular, ikan, buaya dan bahkan tanah maupun lumpur dan pasir akan menyerang masuk ke dalam tubuh mereka yang bersalah.

Warga Dayak Agabab hingga saat ini masih meyakini bahwa pengadilan di upacara Bedolob ini merupakan pengadilan Tuhan yang paling adil untuk dilaksanakan karena selain disaksikan oleh para leluhur mereka, pengadilan tersebut juga merupakan pengadilan dari sang penguasa alam raya.

Oleh karena itu warga suku Dayak Agabab bertekad untuk tetap melestarikan dan menjaga tradisi ini secara turun temurun agar tidak akan pernah hilang dan tetap ada walau jaman terus berubah.

Sumber:  Kompasiana Kompas

Previous post

MENGUNGKAP VIDEO PENAMPAKAN UFO DI MALAYSIA

Next post

Rebut kembali mantan Anda, Pelet Islami untuk memelet wanita jarak jauh menggunakan foto