Misteri Dejavu Yang Belum Terpecahkan

Pernahkah Anda mengalami hal-hal menakjubkan saat duduk di sebuah taman untuk pertama kalinya, lalu mencoba berjalan-jalan disekitar taman tersebut, kemudian duduk kembali, dan seketika itu juga Anda merasa pernah ke tempat tersebut?

Perasaan itu terjadi saat itu juga, detik itu juga. Di taman itu Anda merasa duduk dalam posisi dengan pemandangan sekitar yang pernah dialami sebelumnya. Tetapikapan peristiwa sebelumnya terjadi, Anda tak bisa mengingatnya. Bahkan untuk dapat benar-benar mengingat kapan dan bagaimana pengalaman sebelumnya itu terjadi secara rinci.

Yang Anda tahu hanyalah adanya sensasi misterius yang membuat Anda tidak merasa asing dengan sebuah tempat atau sebuah peristiwa bari itu. Inilah yang disebut Deja Vu, salah satu misteri kehidupan manusia yang belum terpecahkan. Konon dejavu berasal dari kejadian serupa yang pernah dialami oleh jiwa kita dalam salah satu kehidupan reinkarnasi sebelumnya.

kisah shanti devi

Shanti Devi, gadis yang lahir di Delhi pada tahun 1926 dikenal sangat jarang bicara sampai dia berusia empat tahun dan menggegerkan India. Ketika ia mulai bisa berbicara, “Ini bukan rumah saya sesungguhnya! Saya punya suami dan anak laki-laki di Mathura! Saya harus kembali kepada mereka!”

“Ini adalah di India”, sahut orangtuanya.

Bukannya membawa anak mereka ke dokter atau psikiater, orang tua Shanti malah berkata “Itu adalah masa lalu. Ini sekarang. Jadi lupakan masa lalumu, kamu sedang bersama kita kali ini”.

Shanti Devi tidak menyerah. Dia menceritakan tentang mantan keluarganya kepada siapa saja yang mau mendengarkan. Salah satu gurunya di sekolah diminta untuk mengirimkan surat ke alamat yang di berikan Sganti Devi sebagai ‘rumahnya sesungguhnya’ di Mathura, untuk menanyakan apakah ada seorang wanita yang telah meninggal di sana beberapa tahun yang lalu.

Yang mengherankan, ia segera mendapatkan balasan surat dari suami Shanti Devi sebelumnya, yang mengakui bahwa istrinya yang masih muda bernama Lugda Devi telah meninggal beberapa tahun sebelumnya, setelah melahirkan anak mereka.

Apa yang diceritakan Shanti Devi tentang rumah dan anggota-anggota keluarga sebelumnya semua telah dikonfirmasi. Beberapa kalangan mulai menarik minat tentang apa yang menimpanya, termasuk Mahatma Gandhi dan beberapa anggota terkemuka pemerintah India.

Ketika Mahatma Gandhi mendengar tentang kasus ini, ia bertemu anak itu dan membentuk komisi untuk menyelidiki. Komisi bepergian dengan Shanti Devi ke Mathura, tiba pada tanggal 15 November 1935. DI sana ia diakui beberapa anggota keluarga, termasuk kakek dari Lugda Devi.

Dia menemukan bahwa Kedar Nath telah lalai memperbarui sejumlah janji-janji yang telah dibuatnya untuk Lugdi Devi di ranjang kematiannya. DIa kemudian melanjutkan perjalanan ke rumah bersama orangtuanya. Laporan komisi menyimpulkan bahwa Shanti Devi itu memang reinkarnasi dari Lugdi Devi.

Kisahnya dianggap sebagai salah satu klaim reinkarnasi paling menarik dan terdokumentasi dengan baik yang pernah diselidiki dan diabadikan dalam sebuah buku karangan pemenang penghargaan wartawan Swedia, Sture Lonnerstrand: “I Have Lived Before ~ True Story of the Reincarnation of Shanti Devi”.

Betulkah apa yang dialami Shanti Devi termasuk ke dalam fenomena deja vu? Apa saja yang menyebabkan orang mengalami deja vu? Lalu bagaimana metode ilmiah menjelaskannya?

Menurut penelitian, setidaknya 70% penduduk bumi pernah mengalami fenomena deja vu dengan rata-rata usia 15 sampai 25 tahun adalah orang yang paling sering mengalaminya dibanding usia lainnya.

Istilah deja vu pertama kali digunakan oleh seorang ilmuwan Prancis bernama Emile Boirac yang mempelajari fenomena ini pada tahun 1876. Deja vu mengacu pada frase dalam bahasa Prancis yang berarti pernah melihat atau pernah merasa.

Kata ini juga mempunyai beberapa turunan dan variasi seperti deja vecu (telah mengalami), deja sendti (telah memikirkan), dan deja visite (telah mengunjungi).

Meski Emile Boirac telah melakukan penelitian deja vu ini sejak tahun 1876, namun ia tidak pernah secara tuntas menyelesaikan penelitiannya. Di kemudian hari, makin banyak peneliti yang mencoba untuk memahami ini. Setidaknya teradapat 40 teori yang berbeda mengenai deja vu, mulai dari peristiwa paranormal, reinkarnasi, hingga gangguan syaraf.

gunung es

Foto di atas merupakan foto ilustrasi “Puncak gunung es” yang cukup populer untuk menjelaskan dan memahami deja vu. Para ahli otak sering menggunakan ilustrasi foto ini untuk, menunjukkan seperti apa pikiran kita yang sebenarnya. Permukaan air adalah batas kesadaran kita.

Pikiran sadar kita adalah bongkahan yang muncul di atas permukaan laut. Sedangkan pikiran bawah sadar adalah bongkahan raksasa yang ada di dalam laut. Dalam teori ini, sebagian besar informasi yang kita terima tersimpan di pikiran bawah sadar kita dan belum tentu muncul ke permukaan.

Hanya sebagian kecil dari informasi pernah diterima benar-benar kita ingat atau sadari.

Teori lain menyebutkan, salah satu tipe yang paling umum dari deja vu adalah waktu dimana sebuah peristiwa menguraikannya, seakan-akan memori ingatan terpecah menjadi dua aliran. Tiba-tiba kita mendengarkan beberapa kata-kata yang familiar di kepala sepersekain detik, atau bahkan suku kata tertentu. kemudian , mendadak aliran waktu tampakanya mengubah sendiri, dan aliran kata per suku kata bergabung menjadi normal dan mengubah semua ingatan.

Ini bisa disebabkan oleh pergeseran persepsi di otak. Beberapa peneliti menjadikan persepsi ini sebagai pembelajaran, terutama tentang bagaimana otak kita memproses informasi dan mempercayai bahwa sebuah input (mendengar dan melihat dari peristiwa atau sebuah percakapan), entah bagaimana bisa keluar dan tersinkroniasi dengan pengolahan informasi saat itu juga.

misteri dejavu

Dalam keadaan normal, misalkan kita mendengarkan percakapan seseorang, awalnya adalah kita melihat sebuah bibir dari lawan bicara kemudian membentuk kata-kata, kita lalu mendengarkan sebuah suara dari mulutnya, dan hampir seketika, otak pun menerjemahkan sensasi-sensasi menjadi sebuah pemandangan atau suara yang penuh kata-kata dan makna.

Dalam kasus deja vu, ada kesalahan di suatu tempat dalam otak tentang persepsi kita saat melakukan input. Sebuah lag itu kemudian berkembang, menyebabkan kita merasakan ada “terjemahan” lebih dahulu sebelum otak memberitahu bahwa kita sedang memproses kata-kata yang di ucapkan lawan bicara.

Terjemahan itulah yang akhirnya masuk dan diterima dalam otak kita. Meskipun hanya dapat berlangsung selama beberapa detik, inilah yang menyimpulkan beberapa peneliti bahwa kita telah mengalami peristiwa yang berlangsung, atau bahwa kita memiliki percakapan ini sebelumnya.

Menariknya, deja vu juga banyak dikaitkan dengan epilepsi lobus temporal, dimana dilaporkan orang yang menderita kejang semacam ini kadang-kadang mengalami deja vu selama aktivitas kejang atau pada saat-saat antara kejang.

Lalu bagaimana dengan apa yang dialami Shanti Devi sebagai bagian dari deja vu? Masih merupakan misteri menarik yang belum terungkap.

Previous post

Terbentuknya Freemason Sebagai Konspirasi Balas Dendam Kepada Dunia

Next post

Misteri Manusia Raksasa di Bengawan Solo