Mengungkap Tabir Pintu Rezeki

Ada orang mengatakan bahwa rezeki itu misteri. Tentulah pernyataan itu sangat benar sekali. Sebab jodoh, rezeki, dan mati adalah rahasia Allah. Hanya Allah yang mengetahuinya. Meski demikian, antara jodoh dan rezeki keduanya hampir sama. Keduanya sama-sama tidak bisa didapatkan jika tidak dicari.

Untuk itulah, keduanya (jodoh dan rezeki) harus diungkap tabirnya oleh manusia sendiri. Setiap manusia telah dijamin oleh Allah ta’ala rezekinya masing-masing.

Meski demikian, bukan berarti rezeki akan datang dengan sendirinya. Sekalipun rezeki itu pasti, maka kita tetap harus berusaha menjemputnya. Bagaimana caranya? Yakni bekerja dan berdoa.

Perlu diperhatikan, bahwa seluruh rezeki bagi semua makhluk, telah Allah tentukan sesuai porsinya. Kaya dan miskin, sakit dan sehat, senang dan susah, termasuk juga ilmu dan amal shalih seseorang pun telah ditentukan.

Dengan mengetahui hal ini, bukan berarti kita kemudian pasrah dan tidak berusaha sama sekali. Sebagian orang memiliki anggapan yang salah dalam memahami hal ini. Mereka hanya pasrah terhadap takdir tanpa melakukan usaha sama sekali.

Bukankah Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan melarang kita bersikap malas? Apabila kita mengambil sebab dan mendapatkan hasil yang tidak kita inginkan, maka kita tidak boleh sedih dan berputus asa.

Hal ini berlaku dalam mencari rezeki, karena semuanya sudah merupakan ketetapan Allah. Karenanya Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglagh kepada Allah dan jangan kamu malas! Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengatakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’, tetapi katakanlah: ‘Qoddarallahu wa maa sya’a fa’ala” (HR. Muslim)

Ingat! Bahwa rezeki tidaklah sebatas harta dunia. Ilmu yang bermanfaat adalah rezeki. Kemudahan untuk beramal shalih adalah rezeki. Istri yang shalihah adalah rezeki. Maka kita wajib bersyukur atas reseki yang Allah berikan.

Kita boleh saja senang atas harta kekayaan yang kita peroleh sekarang. Namun, jangan pernah berfikir bahwa harta kekayaan yang kita punyai sekarang adalah sebuah kenikmatan yang tiada habisnya.

Sebab, di dalam harta kekayaan itu tersimpan sebuah ujian atau cobaan dari Allah Ta’ala yang bisa kapan saja dilenyapkan oleh-Nya. Begitu pula dengan kemiskinan, yang didalamnya terdapat ujian dari-Nya.

Allah memberikan harta kekayaan kepada hamba-Nya dan juga juga kemiskinan merupakan sebuah ujian bagi seorang hamba. Ada yang di beri harta kekayaan yang melimpah tetapi tetap amanah dan senantiasa digunakan di jalan kebaikan. Namun ada juga yang hanya digunakan untuk berfoya-foya dan menyebabkan Allah murka.

Begitu pula dengan kemiskinan. Ada yang tetap sabar dan tabah dalam menjalaninya, ada pula yang selalu mengeluh karena merasa hidupnya serba kurang. Kekayaan dan kemiskinan merupakan ujian yang diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya untuk menguji seberapa kuat imannya.

Coba bayangkan jika di dunia ini hanya ada orang-orang yang hartanya melimpah saja, atau yang ada hanya orang miskin saja. Jika hal itu terjadi, tentu akan bertentangan dengan firman Allah berikut ini:

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. al-Mulk 67:3 )

Meskipun ada sebuah perbedaan mengenai cara Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, kita sebagai seorang umat yang beriman tentu tetap tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya.

Kita harus tetap berani melangkah demi menjemput rezeki yang disediakan oleh-Nya. Ini artinya, kita wajib berusaha, dan biarkan Allah Ta’ala yang menentukan hasilnya.

Previous post

Menguak Tabir Ritual Pesugihan Nyeleneh di Gunung Kemukus

Next post

Jailangkung, Fakta atau Mitos