Komisi Trilateral dan The Bilderberg Group

Munculnya penulis-penulis beraliran anarkis radikal, sosialis dan filosofi nihilis yang populer di Eropa pada abad ke-19, menjadi inspirasi bagi kelahiran organisasi-organisasi rahasia di Eropa. Diantaranya berhasil melebarkan sayap pengaruh mereka ke seluruh dunia.  Disaat yang sama, pada abad ke 19, ada kebangkitan filsafat Hermetik dan Rosicrucian di mana pikiran rasional terpesona oleh doktrin mistis dan paganisme.

Trilateral Commission and the Bilderberg Group
Trilateral Commission and the Bilderberg Group

Namun tidak semua organisasi rahasia Eropa ini bergerak dengan rahasia. Diantara perkumpulan rahasia ada yang meperkenalkan diri secara terbuka pada umum seperti Trilateral Commission and the Bilderberg Group. Keduanya terdokumentasi dengan rapih bahkan memiliki situs website resmi. Keduanya juga mengambil peran sebagai penasehat politik dan ekonomi dunia Internasional serta banyak mendirikan organisasi social dan kemanusiaan. Namun di belakang tabir, mereka membuat banyak komitment rahasia yang sangat berbahaya bagi masyarakat global. Dan kebijakan yang telah mereka terapkan begitu terkait dengan idiologi Illuminati.

 The Trilateral Commission

Komisi Trilateral  Dibentuk pada tahun 1973 oleh David Rockefeller sebagai organisasi swasta atau non-pemerintah. Keberadaan organisasi ini untuk mendorong kerjasama yang lebih erat antara Jepang, Uni Eropa dan Amerika Utara dengan negara-negara dengan sumberdaya alam melimpah yang ada di seluruh dunia. Sekilas, keberadaan organisasi ini sangat tidak berbahaya.

 The Trilateral Commission
Sejarah The Trilateral Commission

Namun, jika mempelajari lebih dalam isi dari deklarasi pendirian organisasi, akan muncul banyak pertanyaan kritis.

Isi deklarasi tersebut adalah:

 “Growing interdependence is a fact of life of the contemporary world. It transcends and influences national systems… To be effective in meeting common problems, Japan, Western Europe, and North America will have to consult and cooperate more closely, on the basis of equality, to develop and carry out coordinated policies on matters affecting their common interests… refrain from unilateral actions incompatible with their interdependence and from actions detrimental to other regions… [and] take advantage of existing international and regional organizations and further enhance their role. The Commission hopes to play a creative role as a channel of free exchange of opinions with other countries and regions. Further progress of the developing countries and greater improvement of East-West relations will be a major concern.”

Yang artinya kurang lebih: “Saling ketergantungan yang terus berkembang adalah fakta kehidupan dari dunia kontemporer. Ini melampaui dan mempengaruhi sistem kenegaraan… Agar efektif dalam memenuhi masalah umum, Jepang, Eropa Barat, dan Amerika Utara harus berkonsultasi dan bekerja sama lebih erat, atas dasar kesetaraan untuk pengembangan dan melaksanakan kebijakan yang terkoordinasi pada hal-hal yang mempengaruhi kepentingan bersama mereka … menahan diri dari tindakan sepihak yang tidak kompatibel dengan saling ketergantungan mereka dan dari tindakan merugikan daerah lain … [dan] mengambil keuntungan dari organisasi-organisasi internasional dan regional yang ada dan selanjutnya meningkatkan peran mereka. Komisi berharap untuk memainkan peran kreatif sebagai saluran pertukaran bebas pendapat dengan negara-negara lain dan daerah. Kemajuan lebih lanjut dari negara-negara berkembang dan peningkatan yang lebih besar dari hubungan Timur-Barat akan menjadi perhatian utama. “

Kritik akan organisasi dan deklarasi berdatangan dengan cepat. Praktek dari “saling ketergantungan yang terus berkembang “ini tidak menghasilkan banyak hal positif malah memperburuk krisis yang ada. Salah satu kritik berasal dari mantan Senator Barry Goldwater yang menyatakan bahwa ” ada upaya yang terkoordinasi untuk merebut kontrol dan mengkonsolidasikan empat pusat kekuasaan: politik, keuangan, intelektual dan gerejawi (keagamaan) dalam penciptaan sebuah kekuatan dunia. Kekuatan ini berada di atas kekuatan politik negara”.

Kritik lainnya datang dari semiotika terkemuka Noam Chomsky menyiratkan bahwa organisasi ini Berpusat pada percobaan untuk mendorong apa yang mereka sebut ‘lebih moderasi dalam demokrasi.’. Pada kenyataannya malah memalingkan manusia ke sikap pasif dan tunduk sehingga mereka memberikan banyak kendala pada kekuasaan negara. “

Rockefeller bersama dengan Zbigniew Brzezinski (co-founder organisasi) secara efektif memilih beberapa ratus profesional di bidang keuangan dan industri untuk melayani organisasi. Dengan keberadaan mereka, organisasi ingin memastikan bahwa kepentingan keuangan akan berjalan dengan baik jika dilayani oleh anggota sendiri.

Diantara siasat mereka dalam mempertahankan kepentingan pribadi adalah membantu memilih Gubernur Georgia Jimmy Carter menjadi presiden pada tahun 1976. Hal ini untuk memuluskan portofolio pribadi Rockefeller terkait investasi real estate di Atlanta. Nilai real estate ini pada tahun 1970 diperkirakan berada di kisaran $ 5 Miliar . Tidak heran bahwa Atlanta dikenal sebagai “Rockefeller Center of the South”

Namun uang saja tidak cukup untuk mempengaruhi masyarakat. Pengalaman menunjukkan bahwa harus ada serangkaian prinsip dan pedoman yang nyata dalam rangka menumbuhkan opini  dalam masyarakat. Tidak peduli apakah pedoman ini masuk akal atau tidak rasional. Jika Anda mencermati kata-kata co-founder Komisi Trilateral dan mantan Penasihat Keamanan Nasional  Presiden Carter, Zbigniew Brzezinski, Anda mungkin menganggap bahwa organisasi ini memiliki tujuan yang tidak baik.

 “In the absence of social consensus society’s emotional and rational needs may be fused — mass media makes this easier to achieve — in the person of an individual who is seen as…making the necessary innovations in the social order. Such a society would be dominated by an elite whose claim to political power would rest on allegedly superior scientific know-how. Unhindered by the restraints of traditional liberal values, this elite would not hesitate to achieve its political ends by the latest modern techniques for influencing public behavior and keeping society under close surveillance and control. Though Stalinism may have been a needless tragedy for both the Russian people and communism as an ideal, there is the intellectually tantalizing possibility that for the world at large it was, as we shall see, a blessing in disguise.”

 Yang artinya kira-kira

“Dengan tidak adanya kesepakatan, emosi dan rasional dalam tiap individu masyarakat, maka diperlukan adanya sebuah inovasi dalam tatanan social. Karena masyarakat seperti ini akan didominasi oleh kalangan elit yang menguasai politik. Para elit ini tidak akan ragu untuk mencapai tujuan politik yang bergerak tanpa hambatan dan tanpa memperdulikan nilai-nilai yang ada. Menggunakan  teknik modern terbaru dalam mempengaruhi perilaku masyarakat agar tetap terkontrol dan mudah diawasi .  Meskipun Stalinisme mungkin menjadi tragedy yang tidak diinginkan oleh orang-orang Rusia maupun komunisme, namun ada kemungkinan sesungguhnya ada godaan secara intelektual untuk menerapkan hal yang sama pada  dunia , seperti yang akan kita lihat, sebuah berkah yang tersembunyi.”

Hal tersebut dapat dibandingkan dengan pernyataan dari Rockefeller sendiri setelah kunjungannya tahun 1973 ke Republik Rakyat Cina:

Eksperimen sosial di Cina di bawah kepemimpinan Ketua Mao adalah salah satu yang paling penting dan sukses dalam sejarah manusia.” (New York Times, “Dari wisatawan China,” 10 Agustus 1973) “… unit keluarga dirusak … anak-anak diambil dari orang tua dan ditempatkan di tempat yang dikelola pemerintah … orang tua dapat melihat anak-anak mereka seminggu sekali dan mereka melihat anak-anaknya mereka tidak bisa menunjukkan kasih sayang terhadap anak-anaknya. Tujuannya adalah agar anak-anak dan keluarga memutuskan kasih sayang mereka dan mengarahkannya ke arah negara Semua nama diambil dari anak-anak dan mereka diberi nomor. Tidak ada identitas individu … sistem komunis menghancurkan moralitas di Red Cina Tidak ada moralitas karena cinta dari keluarga di ambil. Tidak ada kejujuran dan saling menghormati di antara laki-laki. Tidak ada martabat manusia.. mereka semua seperti binatang. Tidak ada rasa bersalah saat berkaitan dengan pembunuhan individu demi  perbaikan negara … “.

Pendapat dari kedua orang diatasmemperlihatkan makna tersirat pada teori “membina saling ketergantungan antara bangsa-bangsa” dari deklarasi The Trilateral Commission. Makna yang cukup berbahaya jika diterapkan dalam kebijakan organisasi yang memiliki pengaruh global.

The Bilderberg Group

Bilderberg Group tidak pernah membantah keberadaannya, daftar anggota tahunan dan ketua konferensinya. Bahkan menerbitkan temuan dan laporan. Namun mereka tetap dikelilingi kerahasiaan dan elitisme yang menyebabkan para pengamat merenungkan apa motivasi sesungguhnya di belakang sikap diplomatik dan baik hati mereka.

Konferensi Bilderberg pertama kali diadakan pada tahun 1954 sebagai konferensi pribadi tiga hari antar sekitar 60 pemimpin politik, ahli keuangan dan praktisi industriyang dirancang untuk mendorong hubungan antara Amerika Utara dan Eropa. Saat itu Suasana antara Eropa Barat dan Amerika Utara sedang dilanda perang dinging pasca Perang Dunia II.

The Bilderberg Group
The Bilderberg Group

Organizer Jozef Retinger, penasihat politik Polandia (yang diasingkan dari tanah kelahirannya oleh rezim komunis), berusaha untuk mengundang para penasihat tinggi dan kepala industri dari negara-negara Eropa lainnya. Hal ini kemudian tercium oleh kepala CIA Walter Bedell Smith dan penasihat Eisenhower, Charles Douglas Jackson dan memberikan dukungan. Selanjutnya, lima puluh delegasi dari 11 negara-negara Eropa dan 11 delegasi dari AS menghadiri konferensi pertama yang diadakan di Hotel de Bilderberg di Belanda ( 29-31 Mei tahun 1954). Pertemuan tersebut ternyara sukses, dan segera diresmikan sebagai konferensi tahunan dengan peserta sekarang berjumlah antara 120-150.

Latar belakang Retinger ini perlu dicatat, karena latar belakangnya selama Perang Dunia II masih belum jelas. Ia bertemu dengan para pemimpin tinggi perjuangan bawah tanah Polandia yang kemudian bergabung dengan Soviet pada tahun 1944. Namun golongan tertentu mencurigainya, apakah ia bekerja atas nama pasukan pendudukan Jerman, pasukan sekutu,  atau Perdana Menteri Wladyslaw Sikorski? Pertanyaannya masih belum jelas, dan ia selamat dari beberapa upaya pembunuhan sebelum pengasingannya di tahun 1947.

Sikorski dan Retinger adalah pendukung kuat dari unifikasi Eropa. Retinger membantu membuat Dewan Eropa. Sebuah konsep yang sepenuh hati diusulkan dan dianut oleh Perdana Menteri Inggris,Winston Churchill yang juga seorang freemasmon, di awal tahun 1943. Retinger juga pendukung Gerakan Eropa Internasional antara tahun 1947 dan 1949; yang keduanya merupakan pelopor langsung terbentuknya Uni Eropa saat ini. Konsep Uni Eropa ini sangat mirip dengan konsep sinarki Illuminati, yaitu membimbing manusia melalui pemerintahan langsung dan pengkontrolan, dengan hukum tunggal, konstitusi tunggal dan pemerintah tunggal.

The Bilderberg Group
Pertemuan para anggota The Bilderberg Group

Akhir-akhir ini, kepala dan peserta konferensi Bilderberg telah melibatkan pemilik  Washington Post dan New York Times; kepala IBM, Google, Unilever, Goldman Sachs, Nestle, BP dan Barclays Bank; kepala Federal Reserve Bank, Organisasi Perdagangan Dunia, Dewan Hubungan Luar Negeri dan Departemen Pertahanan; dan bahkan royalti asing dan presiden. Kenyataannya, perkumpulan para elit ini menghasilkan kesenjangan yang besar dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan para masyarakat umum.

Bahaya dari usaha Internasionalisasi

 Bahaya Organisasi Komisi Trilateral dan Bilderberg Group adalah karena mereka seakan-akan sebuah organisasi yang sangat transparan. Menampilkan seolah publik dapat mengawasi mereka dan mengkritisi semua kebijakan yang dihasilkan dalam pertemuan-pertemuan mereka.

Meskipun dengan sikap transparan ini, kedua organisasi tetap berakar pada ideologi yang mencakup budaya terpusat dan homogen, bebas dari keragaman tradisional negara-bangsa, membina “saling ketergantungan”, mengendalikan setiap aspek kehidupan rakyat, melarang kebebasan berbicara, gerakan, pertukaran, perselisihan pendapat dan otonomi dengan pembentukan kekuatan universal. Pada intinya, hal ini realisasi yang paling sukses dari mimpi Illuminati.

Anggota

Komisi Trilateral dan Konferensi Bilderberg awalnya berjalan rahasia. Namun baru-baru ini mereka membuka daftar keanggotaan untuk umum namun masih dalam pengawasan yang ekstrim.

Anggota Komisi Trilateral antar lain: Shell Belanda CEO Dick Benschop; Mantan Ketua Intelijen Nasional Joseph Nye, Sr .; mantan Ketua Federal Reserve Alan Greenspan dan Paul Volcker; CEO Mattel Robert Eckert; Senator AS Dianne Feinstein, John D. Rockefeller IV dan Charles Rangel; mantan Sekretaris Negara Henry Kissinger dan Madeline Albright; CEO Hess John A. Hess; mantan Duta Uni Eropa John Bruton, Tomas Hendrik Ilves dan Max Jakobson; BAE Systems Ketua Richard Olver; Ketua NATO Pierre Lellouche; ING Wakil Ketua Cees Maas; Penasihat Bain & Company Managing Robin Buchanan; CEO Atlantic Media Co David Bradley; Santander UK CEO Ana Patricia Botin; Wakil Ketua UBS Lord Brittan dari Spennithorne; Ketua Toyota Motor Fujio Cho; Presiden Bank of Tokyo-Mitsubishi Nobuyuki Hirano; Presiden Samsung Lee Jae Yong; Duta Besar Korea Hong-Seok Hyun; Wakil Ketua AIG Jakob Frankel; mantan Duta Besar Israel Itamar Rabinovich; Ketua SMS Heinrich Weiss; Pangeran Philip dari Yunani; CEO Siemens Philip Loscher; Direktur HSBC Rachel Lomax; Advisor N.M. Rothschild Panagis Vourloumis; mantan Direktur Eksekutif Komisi 9/11 Serangan Teroris Philip Zelikow; dan mantan Advisors Keamanan Nasional AS dan Intelijen Dennis Blair dan James L. Jones.

Anggota dan peserta dari konferensi Bilderberg antara lain: Wakil Ketua Citigroup Peter Orszag; AXA CEO Henri de Castries; CEO Dow Chemical Andrew Liveris; Ratu Beatrix dari Belanda; mantan anggota Kongres AS Richard “Dick” Gephardt; Mantan Presiden Bill Clinton; Senator AS John Edwards, Dianne Feinstein, John Kerry dan Sam Nunn; mantan Sekretaris Negara Henry Kissinger dan Condoleeza Rice; CEO Xerox Paul Allaire; mantan CEO BP John P. Browne; CEO Barclays J. Martin Taylor; F.Hoffmann-LeRoche dan CEO Fritz Gerber; Mantan Direktur N.M. Rothschild Norman Lamont; Central EropaTrust Andrzej Olechowski; Goldman Sachs Ketua Peter Sutherland; Mantan Menteri Keuangan AS Robert Rubin; Executive Chairman Google Eric Schmidt; Pangeran Philippe dari Belgia; CEO ALCOA Klaus Kleinfeld; mantan Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dan James Wolfenson; Duta Besar Uni Eropa Bjorn Grydeland; Presiden Bank Sentral Eropa Jean-Claude Trichet; CEO Goldman Sachs Peter Weinberg; Wall Street Journal Editor Robert Bartley; Ketua IBM Louis Gerstner, Jr .; TD Bank Presiden Edmund W. Clark; Mantan Senator AS Tom Daschle; Merrill Lynch Wakil Ketua Harold Ford, Jr .; Mantan Ketua Federal Reserve Ben Bernanke; Direktur Badan Keamanan Nasional Keith Alexander; Ketua Novartis Daniel Vasella; Pendiri dan CEO Amazon Jeff Bezos; dan pendiri dan CEO Microsoft Bill Gates.

Jika dikritisi, “Pembinaan saling ketergantungan” dalam memperbaiki kesenjangan malah memperburuk krisis yang ada .  Misalnya, menurut mantan Senator Barry Goldwater , keberadaan Komisi Trilateral ini  ” untuk merebut kontrol dan mengkonsolidasikan empat pusat kekuasaan: politik, moneter, intelektual dan gerejawi dalam penciptaan sebuah kekuatan dunia ekonomi yang lebih unggul dari politik pemerintah negara-bangsa yang terlibat. Semiotika terkemuka Noam Chomsky, juga memiliki pandangan yang serupa bahwa komisi ini mencoba untuk mendorong apa yang mereka sebut ‘moderasi lebih dalam demokrasi.’ Yang berupaya memalingkan manusia kembali ke sikap pasif dan taat sehingga tidak memberi banyak kendala pada kekuasaan negara. ”

 

 

 

Previous post

SKULL And BONES

Next post

Kegelapan Malam - Supranatural Sebagai Khasanah Budaya Nusantara