Dana Revolusi Soekarno

Pada 1960-an, Presiden Soekarno mengobarkan sebuah gerakan revolusi rakyat menuju kejayaan Indonesia. Termasuk di dalam revolusi tersebut adalah ambisi Soekarno untuk membebaskan kawasan Nusantara dari cengkraman Neo Kolonialisme dan Imperialisme (Neokolim), karena itu dia mengomandokan aksi “Ganyang Malaysia” pada awal tahun 1960-an.

Untuk membiayai revolusi yang dia kobarkan tersbut, Soekarno menyiapkan sejumlah besar dana yang dikumpulkan dari berbagai sumber keuangan Negara.

Karena langkah ambisius ini menghadapai berbagai tantangan dari dalam maupun luar negeri, maka Bung Karno pun mengumpulkan dana itu secara rahasia dan menyimpannya secara amat rahasia pula.

Konon, dana itu ditempatkan di rekening-rekening atas nama Soebandrio, Wakil Perdana Menteri (Waperdam) I saat itu, di bank-bank Eropa dan Jepang.

Tahun 1985, dua dekade setelah Soekarno jatuh dari kekuasaannya, beberapa orang yang merasa mengetahui keberadaan dana revolusi tersebut melakukan pelacakan dan mengupayakan pencairan dana tersebut untuk diserahkan kembali ke kas negara. Orang-orang itu antara lain Amin Arjoso, Bambang Wahyu Adi, dan Harry Hoepoedio.

Arjoso, sebagai motor tim pencari ini, mengklaim dirinya mengetahui benar ihwal dana revolusi itu. Keterlibatan Arjoso dalam pencairan dana ini bermula dari statusnya sebagai pengacara Soebandrio.

Saat melakukan pembelaan terhadap mantan Wakil Perdana Menteri Indonesia yang didakwa terlibat dalam gerakan pemberontakan oleh PKI itu, Amin mendengar informasi mengenai Dana Revolusi tersebut.

Menurut Soebandrio, dana revolusi itu milik negara. Untuk menarik duit yang tersimpan di beberapa bank tersebut, peran pemerintah cukup vital, maka Arjoso pun rajin berkirim surat kepada Menteri Muda Sekretaris Kabinet yang saat itu dijabat oleh Moerdiono.

Kisah upaya pencairan Dana Revolusi itu mulanya begini :

Pada 1986, Amrin Arjoso diminta oleh keluarga Soebandrio untuk mengurus perubahan hukuman Soebandrio dari hukuman mati menjadi hukuman terbatas 20 tahun.

Untuk itu, Arjoso segera mengontak Menteri Kehakiman, Menteri Muda Sekretaris Kabinet Moerdiono, dan Pangkopkamtib Soedomo.

Kepada Moerdiono, Arjoso memaparkan bahwa Soebandrio mengetahui adanya sejumlah dana revolusi di luar negeri. Mendengar paparan itu, dengan simpatik Moerdiono meminta Arjoso mencari informasi lebih jauh tentang keberadaan dana tersebut.

Arjoso pun segera mengumpulkan data-data penting dan langsung menyerahkannya kepada Moerdiono sembari mengatakan bahwa dirinya telah merekam janji Soebandrio bahwa mantan Wakil Perdana Menteri itu akan membantu Pemerintah RI mengupayakan kembalinya dana revolusi.

Pada saat proses pencairan dana itu diitensifkan oleh Arjoso, rupanya istri muda Soebandrio, Sri Kusdyantinah, diam-diam juga bergerak dan mendekati Moerdiono. Terjadilah ketegangan diantara keduanya.

Merasa masygul, Arjoso mengeluhkan hal ini kepada sejumlah orang dekat, dan keluhan tersebut sampai ke telinga Letnan Jenderal Suhardiman yang kemudian membongkarnya kepada media.

Pada 31 Januari 1987, Majalah Tempo menjadikan hal ini sebagai laporan utama yang antara lain memaparkan taksiran Suhardiman terhadap dana itu yang jumlahnya tak kurang dari US$16 Milyar atau dengan kurs waktu itu kurang lebih Rp. 26,5 trilyun.

Isu dana revolusi ini pun menggelembung, apalagi setelah Suhardiman mengelar jumpa pers di Gedung DPR pada 17 Desember 1986. Harian Sinar Pagi menurunkan wawancara tertulisnya dengan Kedutaan Besar Inggris dan Siwss di Jakarta.

Dalam wawancara itu, atase ekonomi Kedubes Inggris Steven Turner melalui sekretarisnya, Nyonya Sulastri, menyampaikan bahwa Kedubes Inggris mengetahui adanya emas batangan yang disimpan di Bank Barclay senilai US$ 161 ribu pada tahun 1960-an.

Sementara sekretaris Pers Kedubes Swiss, R. Spinnler, mengatakan bahwa bentuk urusan ini hendaknya Pemerintah Indonesia mengajukan klaim pada Pemerintah Swiss melalui saluran diplomatik atau hukum.

Bagaimana selanjutnya perburuan Dana Revolusi ini ?
Silahkan baca pada artikel Misteri Dana Revolusi berikutnya.

Previous post

4 Ilmu Pelet Terkuat Nusantara Yang Perlu Diketahui

Next post

Misteri Dana Revolusi Yang Tak Tersentuh Bag 2