Ini adalah seri terakhir dari rangkaian artikel Misteri Dana Revolusi.

Anda dapat membaca seri-seri sebelumnya pada link berikut ini : Misteri Dana Revolusi 1, Misteri Dana Revolusi 2, Misteri Dana Revolusi 3


Pada 1 Juni 1981, Soebandrio membuat surat kuasa, yang isinya memberi hak kepada Musa untuk menarik semua dana, deposito, harta atas nama Soebandrio di luar negeri. Kedua Tan tadi, dan Nyonya Kusdyantinah, bertindak sebagai saksi.

Surat itu kemudian dibawa ke kantor Notaris Nyonya C.S. Moeliono dan kedutaan besar Swiss di Jakarta untuk disahkan. Hari itu juga Soebandrio meminjam uang US$ 5 ribu lagi kepada Musa, dengan jaminan jam tangan.

Musa mengira registrasi di jam itu merupakan nomor rekening Soebandrio di Bank Swiss.

Berbekal biaya dari dua Tan, Musa berangkat ke Siwss. Melalui seorang pialang bernama Kurt Daetwyler, Musa bertemu Gerd Land, seorang pengacara di Zurich. Musa kemudian meminta Gerd Land untuk mencairkan Dana Revolusi di Union Bank of Switzerland. Gerd Land menyanggupi, namun gagal.

Penyebabnya, karena surat kuasa untuk Musa tak bisa dialihkan ke Gerd Land. Selain itu, stempel Kedutaan Besar Swiss ternyata tertera pada lembar tanda tangan notaris, bukan pada halaman tanda tangan Soebandrio.

Akibatnya tanda tangan Soebandrio, yang bertindak sebagai pemilik rekening oleh bank dianggap tidak sah.

Selain dengan Gerd Land, diam-diam Musa juga menjalin kerjasama dengan pialang lain, Mr. Ribaux, seorang warga Siwss. Orang ini bersedia membantu mencairkan dana tersebut dengan imbalan komisi 4% dari duit yang berhasil dicairkan.

Menurut Ribaux, Soebandrio memiliki rekening di Union Bank of Siwtzerland Cabang Mabelone, Jenewa. Hanya informasi ini yang berhasil diperoleh Musa dan dibawa ke Jakarta.

Meski Musa datang dengan tangan hampa, Soebandrio menjadi bertambah semangat ketika mendapatkan informasi dari Ribaux tentang rekening itu, yang disampaikan oleh Musa.

Bekas Wakil Perdana Menteri itu langsung menulis surat di atas kertas bermaterai pada 27 April 1982 ke bank yang ditengarai menyimpan hartanya itu. Bekas orang nomor satu di Biro Pusat Intelijen Indonesia itu memerintahkan Union Bank of Switzerland untuk mencairkan duitnya sejumlah US$ 35 juta kepada Musa, jumlah itu kira-kira 35% dari simpanan Soebandrio di bank itu.

Di samping itu, Union Bank of Switzerland diminta membayar US$4 juta untuk Mr. Ribaux, melalui rekeningnya di Guarda Trust, Vadus, ibu kota Liechenstein, Swiss.

Surat itu ternyata tidak ampuh. Bank tak menghiraukan karena tak ada bukti kepemilikan yang dilampirkannya. Upaya Musa pun mentok.

Setelah Musa, Ghause Ismael, juga seorang Malaysia, mencoba peruntungan. Ghause tertarik terjun ke lingkaran misteri Dana Revolusi itu karena ada jaminan bahwa uang yang dia keluarkan untuk menyelidiki dana itu tak akan hilang sia-sia.

Bila gagal, dana penyelidikannya diganti keluarga Soebandrio, diambilkan dari cek The Guyerzeller Zurmont Bank, senilai US$ 35 ribu atas nama bekas Waperdam I.

Nyatanya, sekalipun dia telah datang ke Zurich bersama Indra Yoga, anak Kusdyantinah, cek itu gagal dicairkan.

Menurut bank itu, kuasa Soebandrio sebagai pemilik cek sudah dicabut sejak tahun 1966. Duit yang dia keluarkan untuk membiayai penyelidikan sebesar Rp. 36 juta pun menguap sia-sia.

Upaya lain dilakukan Nicholas James Constantine. Ia adalah seorang pengacara senior yang berkantor pusat di 33 North La Salle Street, sebuah kawasan elite bisnis di Chicago. Constantine adalah keturunan Yunani lulusan De Paul University, Chicago, dengan spesialisasi hukum bisnis, perbankan, dan koperasi.

Constantine masuk ke lingkaran perburuan harta karun ini lewat teman lamanya, Hudoro Hupudio, adik bungsu Hurustuati, istri pertama Soebandrio. Menurut koran Indonesian Obeserver, 2 November 1987, Hudoro bersama Constantine pada Oktober 1987 sempat ke Siwss bersama Bambang Suharto, waktu itu direktur pusat perbelanjaan Hero yang pernah menjadi anggota Komnas HAM.

Mereka menghubungi Union Bank of Siwtzerland. Menurut sebuah sumber, Constantine memperkirakan, Soebandrio punya simpanan di bank tersebut sebesar US$ 450 juta.

Kabarnya, bila duit ini cair, 40% akan masuk ke kantong Soebandrio. Sisanya masuk saku pengacara Amerika itu.

Constantine ternyata gagal juga, lalu Soebandrio meminta tolong pada Amin Arjoso untuk mengupayakan pencairan itu melalui jalur Pemerintah RI. Hal ini diduga karena semua upaya sudah buntu. Namun Amin gagal juga.

Kini Dana Revolusi itu tetap teronggok sebagai misteri.

Previous post

Misteri Dana Revolusi Yang Tak Tersentuh Bag 3

Next post

Terbentuknya Freemason Sebagai Konspirasi Balas Dendam Kepada Dunia