Wisata dan ziarah ke Gunung Kawi

Ini adalah pepatah yang terbilang populer bagi kalangan warga Tionghoa.

“Gunung tidak perlu tinggi asal ada dewanya.”

Pepatah populer di kalangan warga Tionghoa ini bisa menjelaskan kenapa Gunung Kawi di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sangat populer. Kawi bukan gunung tinggi, hanya sekitar 2.000 meter, juga tidak indah. Tapi gunung ini menjadi objek wisata utama khususnya bagi masyarakat Tionghoa.

Tiap hari selalu saja ada sekitar ratusan orang baik itu dari etnis Tionghoa, termasuk juga orang pribumi naik ke Gunung Kawi. Apalagi jika sudah memasuki masa cuti dan liburan Lebaran, pasti tambah ramai orang yang datang ke sini..

Karena terkait dengan kepercayaan Jawa, Kejawen, maka kunjungan biasanya dikaitkan dengan hari-hari pasaran Jawa: Jumat Legi, Senin Pahing, Syuro, dan Tahun Baru.

Lautan manusia sudah terlihat semenjak kita mulai  berjalan kaki menuju pusat wisata utama (makam dan kelenteng) yang jaraknya sekitar satu kilometer, tempat ini bagaikan suasana di pasar malam. Seperti halnya tempat keramaian lainnya, maka tempat ini pun tak luput dari pengemis, bahkan hingga ratusan pengemis yang tersebar disini, mulai anak-anak hingga dewasa.. Toko-toko souvenir juga tampak berdempetan hingga pesarehan.

Sementara itu, untuk penginapan di daerah sekitar sini ada lebih dari 10 buah dengan tarif mulai dari Rp. 30.000 hingga Rp. 200.000 per/malam. Restoran Tionghoa yang menawarkan sate babi dan makanan tidak halal (buat muslim) juga cukup banyak dan gampang dijumpai disini.

Selain itu ada juga tukang ramal nasib, penjual kembang untuk nyekar sampai penjual alat-alat sembahyang khas Tionghoa. Belum lagi warung nasi dan sebagainya, semuanya menumpuk di tempat ini..

Fasilitas yang ada di Gunung Kawi ini telah dikelola oleh yayasan dengan menggunakan uang sumbangan dari para pengunjung. Para pengunjung yang telah mendapat rejeki setelah berkunjung ketempat ini, maka dia akan datag kembali entah itu untuk membayar nadzar atau sekedar menyumbang atas keberhasilan dan berkah yang diperolehnya.

Apa yang membuat orang-orang untuk datang berduyun-duyun ke Gunung Kawi ini? Apakah untuk mendapatkan kekayaan, rezeki atau mungkin agar usaha yang diajalankan saat ini semakin bertambah lancar.

Yang jelas, ada bermacam-macam niat orang yang datang ketempat ini. Namun rata-rata dan yang umum adalah mereka yang datang kesini mengharapkan agar memperoleh berkah dan rezeki yang lancar.

Karena sebab itu pula, maka warga Jawa Timur ataupun masyarakat umum lainnya kerap mencitrakan Gunung Kawi sebagai tempat pesugihan. Tapi, bagi mereka kalangan kejawen, penggiat budaya Jawa, Gunung Kawi lebih dilihat sebagai tempat pelestarian budaya Jawa dibandingkan pesugihan. Bahkan ada anyak ritual kejawen diadakan di sini secara teratur tiap tahunnya dan diikuti oleh para aktivis budaya Jawa di seluruh Pulau Jawa.

Pesarean Gunung Kawi

Jika kita ingin masuk untuk berziarah ke tempat Pesarean atau makam yang ada disini, maka sebelumnya pengunjung bisa membeli kembang yang banyak di jual disekitaran tempat ini, mulai dari tempat parkir hingga lokasi disekitar makam.

Namun sebelumnya, untuk masuk kelokasi wisata ini, maka pengunjung diharuskan untuk membayar retribusi untuk Desa Wonosari Rp 2.000 per orang. Lalu, menyerahkan KTP (kartu tanda penduduk) atau identitas lain pada satpam yang berjaga untuk didaftar nama dan alamat.

Sumbang lagi uang tapi sukarela. Maka jangan kaget kalau anda menjumpai banyak sumbangan atau retribusi di aset wisata Kabupaten Malang ini.

Setelah jam 12 malam, para peziarah Jawa dan Tionghoa larut dalam sebuah ritual khas Gunung Kawi.  Mereka berjalan berlawanan arah jarum jam mengelilingi pendopo sebanyak tujuh kali, dengan setiap saat berhenti di depan pintu sisi utara, timur, selatan dan barat,  sambil menghormat ke dalam makam.

Sementara itu, di dalam Pendopo Makam sendiri dipenuhi para peziarah  Jawa dan Tionghoa yang memiliki niatan khusus. Sambil membawa bunga dan kemenyan. Mereka dengan sabar menunggu giliran di doakan di depan nisan oleh para asisten juru kunci.

Saat masuk ke kompleks Gunung Kawi, anda akan melihat hampir 99 persen warga keturunan Tionghoa yang berada disini. Anak-anak, remaja, profesional muda, hingga kakek-nenek. Orang-orang tersebut melakukan sembahyang seolah-olah mereka berada pada sebuah klenteng..

Mereka masuk ke makam, lalu berjalan keliling makam, sambil membuat gerakan menyembah seperti mereka berada  di kelenteng. Tidak ada arahan atau instruksi, mereka semua melakukan gerakan-gerakan itu.

Jika di perhatikan, maka hampir tidak ada Tionghoa itu yang beragama Islam. Kok begitu menghormati dan sembahyangan di depan makam Imam Soedjono dan Mbah Djoego? Apa mereka tahu siapa yang dimakamkan di situ? Belum lagi kalau kita bahas secara teologi Islam atau Kristiani tentang boleh tidaknya melakukan ritual di Gunung Kawi.

Warga yang bekerja sebagai pemandu wisata di Gunung Kawi berusaha untuk tidak menyinggung kepercayaan atau agama orang lain yang datang kesini. Selain sensitif, mereka tak ingin bisnis mereka terganggu. Harus diakui, warga Desa Wonosari mendapat banyak berkah dari objek wisata Gunung Kawi.

Tak sedikit penduduk mengais rezeki di kawasan Gunung Kawi mulai pemandu wisata, penjual bunga, warung, satpam, parkir, dan sebagainya.

Selain berdoa sendiri-sendiri, Yayasan Gunung Kawi sendiri juga menawarkan paket ritual tiga kali sehari yang bisa diikuti oleh pengunjung: pukul 10.00, pukul 15.00, pukul 21.00. Ritual ini dipimpin dukun atau tukang doa setempat, namun harus pakai sesajen untuk selamatan. Maka, bagi siapa saja yang mau ikut paket ritual ini harus mendaftar dulu di loket.

Tarif yang biasa digunakan untuk barang-barang selamatan ditulis dengan sangat jelas di loket tempat pendaftaran.. Ada dua tipe selamatan agar keinginan anda (dapat rezeki, usaha lancar) tercapai.

Di luar kompleks makam, ada Kelenteng Kwan Im. Lilin-lilin merah, besar, terus bernyala. Puluhan warga Tionghoa secara bergantian berdoa di sana. Disana juga ada ciamsi, ajang meramal nasib ala Tionghoa.

Keraton Gunung Kawi

Diluar area paserean ini agak keatas dan ditengah hutan pinus yang asri terdapat satu lokasi lagi yang menjadi tujuan para peziarah. Tempat ini disebut sebagai Keraton Gunung Kawi. Banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung di sekitar area ini. Mulai dari listrik, kamar mandi, area parkir, areal outbond, jalur extreme untuk motocross, dan warung makan.

Menurut salah seorang juru kuncinya, situs Keraton Gunung Kawi ini sudah ada sejak tahun 861 Saka dan tercantum dalam sebuah prasasti di Puncak Batutulis, Gunung Kawi.

Saat itu rajanya yaitu Mpu Sindok, seorang keturunan Dinasti Sailendra yang hijrah ke Jawa Timur. Kini petilasan peninggalan Mpu Sindok ini dijadikan tempat pemujaan (pura) dan diberi nama Sanggar Pamujaan Keraton Gunung Kawi.

Uniknya, tempat pertapaan tersebut dibangun dengan menanam lima pohon beringin jawa dengan batu gunung besar di tengahnya. Konon, tempat ini juga merupakan tempat pertapaan Prabu Sri Kameswara dari Kerajaan Kediri pada abad XII. Di dalamnya selain terdapat beberapa buah arca, ada pula lubang untuk melakukan tapa pendem alias bertapa dalam tanah.

Di lokasi ini juga ada Pura Agung Gunung Kawi, yang di dalamnya terdapat sebuah pohon beringin tua yang kelima akarnya menjulang ke atas, dan menyatu pada ketinggian sekitar 1,5 meter. Namun saat ini kondisi dari pohon tersebut sudah mati dan tumbang. Hanya tersisa akar-akarnya yang unik saja yang masih dapat kita nikmati.

Lalu pada jaman perjuangan, tempat ini sangat sering dipergunakan sebagai tempat untuk menyucikan diri dan menenangkan hati. Konon tercatat beberapa tokoh kemerdekaan yang pernah datang ketempat ini, seperti Bung Karno dan Shodancho Supriyadi pernah berkunjung ke tempat ini. Seiring perkembangan zaman, maka masyarakapun sering mendatangi tempat ini untuk memanjatkan doa.

Setelah masa perang kemerdekaan, Keraton Gunung Kawi berkembang pesat dan menjadi tempat favorit yang biasa dikunjungi golongan etnis Tionghoa. Namun, pada tahun 1965 tempat ini sempat ditutup dan bangunannya dirobohkan, karena diduga menjadi tempat persembunyian anggota PKI.

Pada tahun 1974 lokasi ini dibangun dan dibuka lagi oleh pemerintah. Sampai tahun 1978, bangunan di keraton ini masih sangat sederhana, sampai akhirnya pada tahun 1978-1980 lokasi ini mulai dipugar. Bahkan, pada tahun 1993 mulai dilakukan pembangunan secara menyeluruh di lingkungan bangunan keraton. Mulai dari bangunan hingga akses jalan rayanya.

Untuk menuju lokasi wisata Gunung Kawi ini, dapat ditempuh mulai dari Kota Malang dengan melalui dua jalur, yaitu melewati Wagir atau Sukun. Biasanya para pengunjung kebanyakan memilih untuk melewati Wagir karena jarak tempuhnya yang lebih pendek.

Panorama di sepanjang jalan menuju Gunung Kawi juga terbilang indah. Namun para pengunjung harus tetap waspada selama perjalanan, karena banyak jalan-jalan yang berlobang, sehingga harus selalu berhati-hati.

 

Previous post

Inilah Ritual Pesugihan Yang Paling Manjur Di Gunung Kawi

Next post

Menguak Tabir Ritual Pesugihan Nyeleneh di Gunung Kemukus